Kamis, 05 April 2012

Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan CHRONIC KIDNEY DISEASE


KONSEP DASAR PENYAKIT

1.      PENGERTIAN
Cronik Kidney Disease (CKD) adalah penurunan fungsi ginjal yang bersifat persisten dan irreversible (Mansjoer, 2000).
Gagal ginjal kronik adalah penyakit ginjal yang tidak dapat pulih, ditandasi dengan penurunan fungsi ginjal progresif, mengarah pada penyakit ginjal tahap akhir dan kematian. Penyebab paling umum dari gagal ginjal kronik meliputi glomerulonefritis, pielonefritis, hipoplasia, congenital, penyakit ginjal polisiklik, diabetes, hipertensi, system lupus, sindrom al port dan aminoblosis (Tucher, 1999).
Gagal ginjaLl kronik adalah gangguan fungsional uang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia dan retensi urea serta sampah nitrogen lain dalam darah. (Smeltzer, 2002)
Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjalyang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut, hal ini terjadi bila laju filtrasiglomerular kurang dari 50 mL/min. (Suyono, et al, 2001)
Gagal ginjal kronik biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
Kegagalan ginjal kronis terjadi bila ginjal sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun. (Barbara C Long, 1996; 368)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)

2.      EPIDEMIOLOGI
Di negara maju, angka penderita gangguan ginjal tergolong cukup tinggi. DiAmerika Serikat misalnya, angka kejadian gagal ginjal meningkat tajamdalam 10 tahun. Pada 1990, terjadi 166 ribu kasus GGT (gagal ginjal tahapakhir) dan pada 2000 menjadi 372 ribu kasus. Angka tersebut diperkirakanterus naik. Pada 2010, jumlahnya diestimasi lebih dari 650 ribu.Selain data tersebut, 6 juta-20 juta individu di AS diperkirakan mengalamiGGK (gagal ginjal kronis) fase awal. Dan itu cenderung berlanjut tanpaberhenti.

3.      ETIOLOGI
Penyebab dari gagal ginjal kronis antara lain :
1.Infeksi saluran kemih (pielonefritis kronis)
2.Penyakit peradangan (glomerulonefritis)
3.Penyakit vaskuler hipertensif (nefrosklerosis, stenosis arteri renalis)
4.Gangguan jaringan penyambung (SLE, poliarteritis nodusa, sklerosissitemik)
5.Penyakit kongenital dan herediter (penyakit ginjal polikistik, asidosistubulus ginjal)
6.Penyakit metabolik (DM, gout, hiperparatiroidisme)
7.Nefropati toksik
8.Nefropati obstruktif (batu saluran kemih)(Price & Wilson, 1994)
Penyebab gagak ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok :
1.Penyakit parenkim ginjal
Penyakit ginjal primer  : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik, Tbc ginjal
Penyakit ginjal sekunder : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal,Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, Gout, Dm
2.Penyakit ginjal obstruktif : pembesaran prostat,Batu saluran kemih,Refluks ureter,
Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan
·         Infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk
·         Obstruksi saluran kemih
·         Destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama
·         Scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginjal

4.      PATOFISIOLOGI
Gagal ginjal kronis selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR. Stadium gagal ginjal kronis didasarkan pada tingkat GFR(Glomerular Filtration Rate) yang tersisa dan mencakup :
1.      Penurunan cadangan ginjal;
Yang terjadi bila GFR turun 50% dari normal (penurunan fungsi ginjal), tetapi tidak ada akumulasi sisa metabolic. Nefron yang sehat mengkompensasi nefron yang sudah rusak, dan penurunan kemampuan mengkonsentrasi urin, menyebabkan nocturia dan poliuri. Pemeriksaan CCT 24 jam diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi
2.      Insufisiensi ginjal;
Terjadi apabila GFR turun menjadi 20 – 35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima. Mulai terjadi akumulai sisa metabolic dalam darah karena nefron yang sehat tidak mampu lagi mengkompensasi. Penurunan respon terhadap diuretic, menyebabkan oliguri, edema. Derajat insufisiensi dibagi menjadi ringan, sedang dan berat, tergantung dari GFR, sehingga perlu pengobatan medis
3.      Gagal ginjal; yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal.
4.      Penyakit gagal ginjal stadium akhir;
Terjadi bila GFR menjadi kurang dari 5% dari normal. Hanya sedikit nefron fungsional yang tersisa. Di seluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubuluS. Akumulasi sisa metabolic dalam jumlah banyak seperti ureum dan kreatinin dalam darah. Ginjal sudah tidak mampu mempertahankan homeostatis dan pengobatannya dengan dialisa atau penggantian ginjal.
(Corwin, 1994)
Pendekatan teoritis yang biasanya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada Gagal ginjal Kronis:
1.      Sudut pandang tradisional
Mengatakan bahwa semua unit nefron telah terserang penyakit namun dalam stadium yang berbeda-beda, dan bagian spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi –fungsi tertentu dapat saja benar-benar rusak atau berubah strukturnya, misalnya lesi organic pada medulla akan merusak susunan anatomic dari lengkung henle.
2.      Pendekatan Hipotesis Bricker atau hipotesis nefron yang utuh
Berpendapat bahwa bila nefron terserang penyakit maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal. Uremia akan timbul bila jumlah nefron yang sudah sedemikian berkurang sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan lagi.
Adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respon terhadap ancaman ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sisa nefron yang ada mengalami hipertrofi dalam usahanya untuk melaksanakan seluruh beban kerja ginjal, terjadi peningkatan percepatan filtrasi, beban solute dan reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron yang terdapat dalam ginjal turun dibawab normal.
Mekanisme adaptasi ini cukup berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginjal yang rendah.
Namun akhirnya kalau 75 % massa nefron telah hancur, maka kecepatan filtrasi dan beban solute bagi tiap nefron sedemikian tinggi sehingga keseimbangan glomerolus-tubulus tidak dapat lagi dipertahankan. Fleksibilitas baik pada proses ekskresi maupun konsentrasi solute dan air menjadi berkurang.

5.      KLASIFIKASI
Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi 3 stadium
1.Stadium I
Penurunan cadangan ginjal (faal ginjal antar 40 % - 75 %). Tahap inilah yang paling ringan, dimana faal ginjal masih baik. Pada tahap ini penderita ini belum merasasakan gejala gejala dan pemeriksaan laboratorium faal ginjal masih dalam masih dalam batas normal.Selama tahap ini kreatinin serum dan kadar BUN (Blood Urea Nitrogen) dalam batas normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin hanya dapat diketahui dengan memberikan beban kerja yang berat, sepersti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan test GFR yang teliti.
2.Stadium II
Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % - 50 %). Pada tahap ini penderita dapat melakukan tugas tugas seperti biasa padahal daya dan konsentrasi ginjaL menurun. Pada stadium ini pengobatan harus cepat dalam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam,gangguan jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita masuk ketahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat diatas batas normal.Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda beda, tergantung dari kadar protein dalam diit. pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal.Insufiensi ginjal (faal ginjal antar 20 % - 50 %). Pada tahap ini penderita dapat melakukan tugas tugas seperti biasa padahal daya dankonsentrasi ginjaL menurun. Pada stadium ini pengobatan harus cepatdaloam hal mengatasi kekurangan cairan, kekurangan garam,gangguan jantung dan pencegahan pemberian obat obatan yang bersifat menggnggu faal ginjal. Bila langkah langkah ini dilakukan secepatnya dengan tepat dapat mencegah penderita masuk ketahap yang lebih berat. Pada tahap ini lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak. Kadar BUN baru mulai meningkat diatas batas normal.Peningkatan konsentrasi BUN ini berbeda beda, tergantung dari kadarprotein dalam diit.pada stadium ini kadar kreatinin serum mulai meningkat melebihi kadar normal.Poliuria akibat gagal ginjal biasanya lebih besar pada penyakit yang terutama menyerang tubulus, meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter / hari. Biasanya ditemukan anemia pada gagal ginjal dengan faal ginjal diantara 5 % - 25 % . faal ginjal jelas sangat menurun dan timbul gejala gejala kekurangan darah, tekanan darah akan naik, , aktifitas penderita mulai terganggu.
3.Stadium III
Uremi gagal ginjal (faal ginjal kurang dari 10 %) Semua gejala sudah jelas dan penderita masuk dalam keadaan dimantak dapat melakukan tugas sehari hari sebaimana mestinya. Gejal gejala yang timbul antara lain mual, munta, nafsu makan berkurang., sesaknafas, pusing, sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejangkejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma.Stadum akhir timbul pada sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur. Nilai GFR nya 10 % dari keadaan normal dan kadar kreatinin mungkin sebesar 5-10 ml / menit atau kurang.Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat mencolok sebagai penurunan. Pada stadium akhir gagalginjal, penderita mulai merasakan gejala yang cukup parah karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeostatis caiaran danelektrolit dalam tubuh. Penderita biasanya menjadi oliguri (pengeluaran kemih) kurang dari 500/ hari karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula mula menyerang tubulus ginjal,kompleks menyerang tubulus ginjal, kompleks perubahan biokimia dangejala gejala yang dinamakan sindrom uremik mempengaruhi setiap sistem dalam tubuh. Pada stadium akhir gagal ginjal, penderita pasti akan menggal kecuali ia mendapat pengobatan dalam bentuk transplantasi ginjal atau dialisis.

6.      MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain :
hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Gangguan kardiovaskuler Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.
b. Gannguan Pulmoner Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.
c.Gangguan gastrointestinal Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d. Gangguan muskuloskeletal Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ), burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas.
e. Gangguan Integumen kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
f. Gangguan endokrim Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
h. System hematologi anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

7.      PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Urine :
o   Volume
o   Warna
o   Sedimen
o   Berat jenis
o   Kreatinin
o   Protein
2.      Darah :
o   Bun / kreatinin
o   Hitung darah lengkap
o   Sel darah merah
o   Natrium serum
o   Kalium
o   Magnesium fosfat
o   Protein
o   Osmolaritas serum
3.      Pielografi intravena
o   Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
o   Pielografi retrograd
o   Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel
o   Arteriogram ginjal
o   Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskular, massa.
4.      Sistouretrogram berkemih
o   Menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks kedalam ureter, retensi.
5.      Ultrasono ginjal
o   Menunjukkan ukuran kandung kemih, dan adanya massa, kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
6.      Biopsi ginjal
o   Mungkin dilakukan secara endoskopi untuk menentukan sel jaringan untuk diagnosis histologis
7.      Endoskopi ginjal nefroskopi
o   Dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal ; keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor selektif
8.      EKG
Mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa, aritmia, hipertrofi ventrikel dan tanda tanda perikarditis
9.      Pemeriksaan Laboratorium
o Laboratorium darah :
BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), Hematologi (Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan protein dan immunoglobulin)
o Pemeriksaan Urin
Warna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen, SDM, keton, SDP, TKK/CCT
10.  Pemeriksaan EKG
Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
11.  Pemeriksaan USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostate
12.  Pemeriksaan Radiologi
Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen

8.      TINDAKAN PENANGANAN
1.      Dialisis
Dialisis dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi gagal ginjal akut yang serius, seperti hiperkalemia, perikarditis dan kejang. Perikarditis memperbaiki abnormalitas biokimia ; menyebabkan caiarn, protein dan natrium dapat dikonsumsi secara bebas ; menghilangkan kecendurungan perdarahan ; dan membantu penyembuhan luka.
2.      Penanganan hiperkalemia
Keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan masalah utama pada gagal ginjal akut ; hiperkalemia merupakan kondisi yang paling mengancam jiwa pada gangguan ini. Oleh karena itu pasien dipantau akan adanya hiperkalemia melalui serangkaian pemeriksaan kadar elektrolit serum ( nilai kalium > 5.5 mEq/L ; SI : 5.5 mmol/L), perubahan EKG (tinggi puncak gelombang T rendah atau sangat tinggi), dan perubahan status klinis. Pningkatan kadar kalium dapat dikurangi dengan pemberian ion pengganti resin (Natrium polistriren sulfonat [kayexalatel]), secara oral atau melalui retensi enema.
3.      Mempertahankan keseimbangan cairan
Penatalaksanaan keseimbanagan cairan didasarkan pada berat badan harian, pengukuran tekanan vena sentral, konsentrasi urin dan serum, cairan yang hilang, tekanan darah dan status klinis pasien. Masukkan dan haluaran oral dan parentral dari urine, drainase lambung, feses, drainase luka dan perspirasi dihitung dan digunakan sebagai dasar untuk terapi penggantia cairan.
Penatalaksanaan terhadap gagal ginjal meliputi :
1.      Restriksi konsumsi cairan, protein, dan fosfat.
2.      Obat-obatan : diuretik untuk meningkatkan urinasi; alumunium hidroksida untuk terapi hiperfosfatemia; anti hipertensi untuk terapi hipertensi serta diberi obat yang dapat menstimulasi produksi RBC seperti epoetin alfa bila terjadi anemia.
3.      Dialisis
4.      Transplantasi ginjal (Reeves, Roux, Lockhart, 2001)

9.      KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin timbul akibat gagal ginjal kronis antara lain :
1.       Hiperkalemia
2.       Perikarditis
3.       Hipertensi
4.       Anemia
5.       Penyakit tulang
(Smeltzer & Bare, 2001)




KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

10.  PENGKAJIAN
Pengkajian
1. Aktifitas dan Istirahat
Kelelahan, kelemahan, malaise, gangguan tidur
Kelemahan otot dan tonus, penurunan ROM
2. Sirkulasi
Riwayat hipertensi lama atau berat, palpitasi, nyeri dada
Peningkatan JVP, tachycardia, hipotensi orthostatic, friction rub
3. Integritas Ego
Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada kekuatan
Menolak, cemas, takut, marah, irritable
4. Eliminasi
Penurunan frekuensi urin, oliguri, anuri, perubahan warna urin, urin pekat warna merah/coklat, berawan, diare, konstipasi, abdomen kembung
5. Makanan/Cairan
Peningkatan BB karena edema, penurunan BB karena malnutrisi, anoreksia, mual, muntah, rasa logam pada mulut, asites
Penurunan otot, penurunan lemak subkutan
6. Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot, kejang, kebas, kesemutan
Gangguan status mental,penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, koma
7. Nyeri/Kenyamanan
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki
Distraksi, gelisah
8. Pernafasan
Pernafasan Kussmaul (cepat dan dangkal), Paroksismal Nokturnal Dyspnea (+)
Batuk produkrif dengan frotty sputum bila terjadi edema pulmonal
9. Keamanan
Kulit gatal, infeksi berulang, pruritus, demam (sepsis dan dehidrasi), petekie, ekimosis, fraktur tulang, deposit fosfat kalsieum pada kulit, ROM terbatas
10. Seksualitas
Penurunan libido, amenore, infertilitas
11. Interaksi Sosial
Tidak mampu bekerja, tidak mampu menjalankan peran seperti biasanya
(Doengoes, 2000)

11.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor biologis ditandai dengan kurang minat pada makanan
2.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan metabolic ditandai dengan kersakan pada kulit : pruritis
3.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi ditandai dengan edema, asupan melebihi haluaran
4.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolar – kapiler.




DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/doc/46123757/LAPORAN-PENDAHULUAN-CKD. diakses pada tanggal 19 desember 2011
Nanda, 2009, Nursing Diagnosis Deffinition and Classification, Mosby year Book. USA
McCloskey, 2004, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby, USA
Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA



Laporan Pendahuluan Eliminasi


A.   Konsep Dasar Penyakit

Definisi
Eliminasi merupakan suatu proses pengeluaran zat-zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh. Eliminasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : eliminasi urine dan eliminasi fekal.
Eliminasi urine
Sistem yang berperan dalam eliminasi urine adalah sistem perkemihan. Dimana sistem ini terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemoh, dan uretra. Proses pembentukan urine di ginjal terdiri dari 3 proses yaitu : filtrasi , reabsorpsi dan sekresi .
Proses filtrasi berlangsung di glomelurus. Proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari permukaan eferen.
Proses reabsorpsi terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat, dan beberapa ion karbonat.
Proses sekresi ini sisa reabsorpsi diteruskan keluar.
Eliminasi fekal
Eliminasi fekal sangat erat kaitannya dengan saluran pencernaan. Saluran pencernaan merupakan saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh tubuh dengan proses penernaan (pengunyahan, penelanan, dan pencampuran) dengan enzim dan zat cair dari mulut sampai anus. Organ utama yang berperan dalam eliminasi fekal adla usus besar. Usus besar memiliki beberapa fungsi utama yaitu mengabsorpsi cairan dan elektrolit, proteksi atau perlindungan dengan mensekresikan mukus yang akan melindungi dinding usus dari trauma oleh feses dan aktivitas bakteri, mengantarkan sisa makanan sampai ke anus dengan berkontraksi.
Proses eliminasi fekal adalah suatu upaya pengosongan intestin. Pusat refleks ini terdapat pada medula dan spinal cord. Refleks defekasi timbul karena adanya feses dalam rektum

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Eliminasi
Eliminasi Urine
  1. Diet dan intake
Jumlah dan tipe makanana mempengaruhi output urine, seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar.
  1. Respon keinginan awal untuk berkemih
Beberapa masyarakat mempunyai kebiasaan yang mengabaikan respon awal untuk berkemih dan hanya pada akhir keinginan berkemih menjadi lebih kuat. Akibatnya urine banyak tertahan dalam kandung kemih. Masyarakat ini mempunyai kapasitas kamdung kemih yang lebih dari normal.
  1. Gaya hidup
Banyak segi gaya hidup mempengaruhi seseorang dalam hal eliminasi urine. Tersedianya fasilitas toilet atau kamar mandi dapat mempengaruhi frekuensi eliminasi. Praktek eliminasi keluarga dapat mempengaruhi tingkah laku.
  1. Stress psikologi
Meningkatnya stres seseorang dapat meningkatkan frekuensi keinginan berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitif untuk keinginan berkemih dan atau meningkatnya jumlah urine yang diproduksi.
  1. Tingkat aktivitas
Aktifitas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan tonus otot. Eliminasi urine membutuhkan tonus otot kandung kemih yang baik untuk tonus spingter internal dan eksternal.
  1. Tingkat perkembangan
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga akan mempengaruhi pola berkemih. Pada wanita hamil kapasitas kandung kemihnya menurun karena adanya tekanan dari fetus atau adanya
  1. Kondisi patologis
Saat seseorang dalam keadaan sakit,produksi urinnya sedikit hal ini disebabkan oleh keinginan untuk minum sedikit.

         Eliminasi Fekal
   1. Tingkat perkembangan
Pada bayi sistem pencernaannya belum sempurna. Sedangkan pada lansia proses mekaniknya berkurang karena berkurangnya kemampuan fisiologis sejumlah organ.
2. Diet
Ini bergantung pada kualitas, frekuensi, dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh, makanan berserat akan mempercepat produksi feses. Secara fisiologis, banyaknya makanan yang masuk kedalam tubuh juga berpengaruh terhadap keinginan defekasi.
3. Asupan Cairan
Asupan cairan yang kurang akan menyebabkan feses lebih keras. Ini karena jumlah absorpsi cairan dikolon meningkat.
4. Tonos Otot
Tonus otot terutama abdomen yang ditunjang dengan aktivitas yang cukup akan membantu defekasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan materi feses bergerak disepanjang kolon.
5. Faktor psikologis
Perasaan cemas atau takut akan mempengaruhi peristaltik atau motilitas usus sehingga dapat menyebabkan diare.
6. Pengobatan
Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek konstipasi. Laksatif dan katartik dapat melunakkan feses dan meningkatkan peristaltik. Akan tetapi, jika digunakan dalam waktu lama, kedua obat tersebut dapat menurunkan tonus usus sehingga usus menjadi kurang responsif terhadap stimulus laksatif. Obat-obat lain yang dapat mengganggu pola defekasi antara lain: analgesik narkotik,opiat, dan anti kolinergik.
7.Penyakit
Beberapa penyakit pencernaan dapat menyebabkan diare atau konstipasi.
8.Gaya hidup
Aktivitas harian yang biasa dilakukan, bowel training pada saat kanak-kanak, atau kebiasaan menahan buang air besar.
9.Aktivitas fisik
Orang yang banyakn bergerak akan mempengaruhi mortilitas usus.
10. Posisi selama defekasi
Posisi jongkok merupakan posisi paling sesuai untuk defekasi. Posisi tersebut memungkinkan individu mengerahkan tekanan yang terabdomen dan mengerutkan otot pahanya sehingga memudahkan proses defekasi.
11.Kehamilan
Konstipasi adalah masalah umum ditemui pada trimester akhir kehamilan . seiring bertambahnya usia kehamilan , ukuran janin dapat menyebabkan obstruksi yang akan menghambat pengeluaran feses .  Akibatnya , ibu hamil sering kali mengalami hemoroid permanen karena seringnya mengedan saat defekasi .


KLASIFIKASI
Eleminasi urine
1.   Retensi urine
Retensi urine adalah akumulasi urine yang nyata didalam kandung kemih akibat ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih .
  1. Dysuria
Adanya rasa setidaksakit atau kesulitan dalam berkemih .
  1. Polyuria
Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal , seperti 2500 ml /  hari , tanpa adanya intake cairan .
  1. Inkontinensi urine
Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot spingter eksternal untuk mengontrol keluarnya urine dari kantong kemih .
  1. Urinari suppresi
Adalah berhenti mendadak produksi urine

Eleminasi fekal
  1. Konstipasi
Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi , yang diikuti oleh pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering .
  1. Impaksi
Imfaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yang tidak diatasi . Imfaksi adalah kumpulan feses yang mengeras , mengendap di dalam rektum , yang tidak dapat dikeluarkan.
  1. Diare
Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan pengeluaran feses yang cair dan tidak berbentuk .  Diare adalah gejala gangguan yang mempengaruhi proses pencernaan , absorpsi , dan sekresi di dalam saluran GI .
Inkontinensia
Inkontinensia feses adalah ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses dan gas dari anus .
  1. Flatulen
Flatulen adalah penyebab umum abdomen menjadi penuh , terasa nyeri , dan kram.
  1. Hemoroid adalah vena – vena yang berdilatasi , membengkak dilapisan rektum .

 
GEJALA KLINIS
Eleminasi urine
Retensi urine
-          Ketidaknyamanan daerah pubis
-          Distensi kandung kemih
-          Ketidaksanggupan untuk berkemih
-          Sering berkemih dalam kandung kemih yang sedikit ( 25 – 50 ml )

Eleminasi Fekal
Diare
-          Nyeri atau kejang abdomen
-          Kadang disertai darah atau mukus
-          Kadang vomitus atau nausea
-          Bila berlangsung lama dapat mengakibatkan terjadinya kelemahan dan kurus



PEMERIKSAAN FISIK
Eleminasi urine
  1. Abdomen, kaji dengan cermat adanya pembesaran , distensi kandung kemih , pembesaran ginjal , nyeri tekan pada kandung kemih .
  2. Genitalia. Kaji kebersihan daerah genetalia . Amati adanya bengkak , rabas , atau radang pada meatus uretra .
  3. Urine, kaji karakteristik urine klien bandingkan dengan karakteristik urine normal.
Eleminasi fekal  
1.      Abdomen, pemeriksaan dilakukan pada posisi terlentang , hanya pada bagian yang tampak saja
-          Inspeksi. Amati abdomen untuk melihat bentuknya , simetrisitas , adanya distensi atau gerak peristaltik .
-          Auskultasi , dengarkan bising usus , lalu perhatikan intensitas , frekuensi dan kualitasnya.
-          Perkusi , lakukan perkusi pada abdomen untuk mengetahui adanya distensi berupa cairan , massa , atau udara . mulailah pada bagian kanan atas dan seterusnya .
-          Palpasi , lakukan palpasi untuk mengetahui konstitensi abdomen serta adanya nyeri tekan atau massa di permukaan abdomen .
2.      Rektum dan anus , pemeriksaan dilakukan pada posisi litotomi atau sims.
3.      Feses , amati feses klien dan catat konstitensi, bentuk , bau , warna , dan jumlahnya .

 

  1. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Eleminasi urine

I.Pengkajian

  Riwayat keperawatan
Tanyakan pada klien secara cermat dan menyeluruh tentang hal – hal sbb :
    1. Pola perkemihan
Pertanyaan terkait pola berkemih sifatnya individual . Ini bergantung pada individu apakah pola berkemihnya termasuk dalam kategori normal atau apakah ia merasa ada perubahan pada pola berkemihnya .
    1. Frekuensi berkemih
-          5 kali / hari , tergantung kebiasaan seseorang.
-          70% miksi pada siang hari, sedangkan sisanya dilakukan pada malam hari, menjelang dan sesudah bangun tidur.
-          Berkemih dilakukan saat bangun tidur dan sebelum tidur.
            3.   Volume berkemih
      Kaji perubahan volume berkemih untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan dengan membandingkannya dengan volume berkemih normal.
  1. Asupan dan haluaran cairan
-          Catat haluaran urine selama 24 jam
-          Kaji kebiasaan minum klien setiap hari
-          Catat asupan cairan peroral, lewat makanan, lewat cairan infus, atau NGT jika ada.

II. Diagnosa Keperawatan
    1. Retensi urine yang berhubungan dengan kelemahan otot detrusor.
     
     III. Rencana Tindakan dan Rasionalisasi

Intervensi
Rasional
Minta klien untuk berusaha berkemih pada waktu yang terjadwal secara teratur.
Melatih mengosongkan kandung kemih secara teratur dapat mengurangi terjainay pengeluaran air kemih dalam bentuk tetesan.
Instruksikan klien untuk melakukan latihan dasar panggul di luar waktu berkemihnya. Minta klien melakukan latihan ini setiap kali berkemih.
Latihan dasar panggul membantu memperkuat otot-otot panggul pada saat saraf panggul utuh.
Minta klien menggunakan kompresi kandung kemih(metoda Crede) selama berkemih
Metode Crede membantu menstimulasi mikturisi dan mengosongkan kandung kemih.




IV. Evaluasi
-          Kandung kemih tidak akan distensi setelah berkemih.
-          Klien akan menyangkal adanya rasa penuh pada kandung kemihnya setelah berkemih.
-          Klien akan mencapai pengosongan urine total dalam 24 jam setelah kateter diangkat.



Eliminasi Fekal

I. Pengkajian

Riwayat Keperawatan
Tanyakan pada klien tentang hal-hal sebagai berikut:
1.      Pola defekasi
a.       Frekuensi (berapa kali perhari/minggu?)
b.      Apakah frekuensi tersebut pernah berubah?
c.       Apa penyebabnya?
2.      Perilaku defekasi
a.       Apakah klien menggunakan laksatif?
b.      Bagaimana cara klien mempertahankan pola defekasi?
3.      Deskripsi feses
a.       Warna?
b.      Tekstur?
c.       Bau?
4.      Diet
a.       Makanan apa yang mempengaruhi perubahan pola defekasi klien?
b.      Makanan apa yang biasa klien makan?
c.       Makanan apa yang klien hindari atau pantang?
d.      Apakah klien makan secara teratur?
5.      Cairan. Jumlah dan jenis minuman yang dikonsumsi setiap hari
6.      Aktivitas
a.       Kegiatan sehari-hari(misal olahraga)
b.      Kegiatan spesifik yang dilakukan klien( misal penggunaan laksatif, enema atau kebiasaan mengonsumsi sesuatu sebelum defekasi)
7.      Penggunaan medikasi. Apakah klien bergantung pada obat-obatan yang dapat mempengaruhi pola defikasinya.
8.      Stress
a.       Apakah klien mengalami stres yang berkepanjangan?
b.       Koping apa yang klien gunakan dalam menghadapi stress?
c.       Bagaimana respon klien terhadap stres? Positif atau negatif?
       9. Pembedahan atau penyakit menetap
            a. Apakah klien pernah mengalami tindakan bedah yang dapat mengganggu  
                  pola defekasi?
             b. Apakah klien pernah menderita penyakit yang mempengaruhi sistem 
                  gastrointestinalnya?

II. Diagnosa Keperawatan
            a. Risiko devisit volume cairan yang berhubungan dengan diare yang lama.

      III. Rencana Tindakan
            a.Berikan cairan sesuai indikasi.

IV. Evaluasi
a.Dehidrasi berkurang.
            b.Pemenuhan kebutuhan cairan terpenuhi.